Seuntai surat dari seorang gadis kepada ayah dan bundanya yg telah menghalanginya untuk menikah, hanya karena setiap laki-laki baik yang datang tidak sesuai dengan kriterianya.

Wahai engkau para orang tua, jangan jadikan putri-putrimu sebagai perawan tua. Terkurung di dalam rumah tanpa seorang suami yang menenangkan hatinya. Dan tanpa anak yang bisa dipeluk dan di ajak bercanda.

Bunda, dulu aku selalu mendapat cinta dan kasihmu

Sebuah impian pun ku simpan di sanubari

Burung-burung pagi selalu ku ajak berbisik

Akupun sering tertidur lama dengan indahnya mimpi

 

 

Kini aku dewasa dan dibingungkan angan-angan

Sedangkan kulihat umurku berlalu begitu saja

Aku merasa dahaga namun tiada kudapat selain fatamorgana

Aku pun lelah dan tak tahu lagi harus kemana

Dulu aku selalu bermimpi seperti anak perempuan lain

Dengan rumah tangga bahagia dan seorang bayi mungil

Kucurahkan untuk putraku seluruh cinta dan kasih

Dan kulihat putriku berjalan menyeret kain baju sutranya

 

Ayah, samudra khayalan telah aku arungi

Namun kemudian ku kembali dengan luka dan patah hati

Telah kau kurung hatiku dengan benteng yang tinggi

Dan kau berikan rambu-rambu agar aku berhati-hati

 

Kalau ada yang datang menghendaki keiffahanku ini

Kau pun menasehatiku, pilihlah atas dasar agamanya.

Berkata, yang ini kurang dan yang itu kurang

Yang ini pendek dan yang itu tinggi

Para pria pun berpaling dariku dengan sejuta luka

Cinta yang telah berkuncup bungapun layu seketika

Aku sungguh rindu indahnya cinta

Sebagaimana orang buta merindukan cahaya

Juga suami yang menenangkan kegelisahan hatiku

Tidak pernahkah engkau mengalami perasaan itu?

 

Ayah, aku telah layu dan masa mudaku hampir berlalu

Kapankah waktu yang kutunggu menyapaku

Bunda, aku lelah dengan cinta yang berujung luka

Ingin kuakhiri masa lajangku dengan bahagia

 

Ayah, Bunda …

Demi cinta yang telah tertancap di relung hati terdalamku,

Demi niatan suci untuk perbaikan diri bersama kekasih hati,

Demi lautan asmara yang ingin kuarungi dengan halal dan ridho Ilahi,

Ingin kupilih andai aku bisa memilih,

Ingin kuraih andai aku bisa meraih.

Namun, aku sadar, ridho Allah ada pada ridho engkau..

Dan murka Allah ada pada kemurkaanmu duhai ayah bundaku…

 

Ayah, bunda…

Beberapa hari yang lalu ada satu hati yang tersakiti.

Hatikupun teramat sakit dengan semua ini.

Saat bunga telah bermekaran, saat layu telah kembali berkembang, patahlah seketika.

Patahlah oleh perbedaan yang tak mudah untuk disatukan.

Aku mencoba bangkit, ayah…

Aku mencoba berdiri, ibu…

Dengan sisa-sisa perih yang masih menusuk hati, aku coba buka lembaran baru.

Aku coba membuka diri dengan sejuta harapan dan senyuman indah di hati.

Aku kabarkan kegembiraan ini kepada engkau ayah, bunda.

Namun, apakah engkau tahu apa yang terpikirkan oleh anak gadismu ini Bunda?

 

 

Begitu besar harapku untuk membahagiakanmu, untuk menunjukkan baktiku, untuk membuatmu tersenyum dengan penuh keridhoan.

Harapan yang harus berhadapan dengan kecemasan luar biasa.

Kekhawatiran yang meraja

Dan ketakutan yang tiada tara

PANTASKAH AKU UNTUKNYA???!!!!

Hiks…hiks…

Air mataku tiada pernah habis menetes.

Anugerah titik-titik bening inilah kawan sejati tempat berbagi dalam kedukaan yang tiada henti.

Semarang, 12 November 2012 (21.40)

 

About maryaqibtiy

I'm a girl. I had never been to school in Semarang State University majoring in mathematics S1. Currently, I work at Al Madina Islamic elementary school , as a math teacher..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s