Umurku memang sudah tidak muda lagi, melainkan dewasa. Di usia yang sudah matang ini, layaknya gadis-gadis lainnya, akupun ingin segera mengakhiri masa lajangku. Ingin segera mengganti statusku. Bayang-bayang keluarga kecil bahagia terus membayangi hidupku. Apalagi melihat kawan-kawan SMP, SMA, kuliah, bahkan rekan-rekan kerjaku hampir semuanya telah memiliki ‘gandengan’, bahkan banyak pula yang sudah punya lebih dari satu ‘gendongan’ alias anak. Keinginan itu semakin menguat lagi saat seorang yang pernah mengisi hidupku  menikah dengan gadis lain yang pernah membuatku sakit karena menahan rasa cemburu. Rasanya sakit sekali, rasa sakit yang bisa diibaratkan seperti kue lapis, tebal. Padahal, baru kemarin aku merasakan betapa nikmatnya dikhianati, dipermainkan, dan ditinggalkan oleh seorang lelaki yang aku yakini sebagai calon imam terbaikku yang akan menghalalkanku. Oh.. betapa bodohnya aku yang terlalu larut dalam kesabaran, yang terlalu lurus dalam baiknya persangkaan, yang terlalu mudah untuk memberikan sepenuhnya kepercayaan. Seandainya dulu aku tidak mudah tergoda dengan rayuan kata ”ta’aruf”, mungkin aku tak akan merasa sekecil ini dalam menghadapi cobaan. Entah kabut apa yang berhasil membutakan kedua mata dan hatiku saat itu. ”Dia taat dalam agama. Dia kental dalam pendidikan Islam. Dia berasal dari keluarga terhormat yang basic agamanya kental. Dia putera kiai. Dia… Dia…”. Dan berjuta bisikan lainnya yang mengelabuhi hatiku. Oh Rabbi, benar saja orang yang tampak baik di mata, belum tentu baik juga menurut-Mu.

Orang-orang di sekelilingku tak pernah bosan bertanya, kapan nikah, kapan menyusul, kapan ganti status, orang mana calonnya, bla.. bla.. bla.. Namun, insyaallah aku pun tidak akan pernah bosan untuk terus berusaha menemukan calon pemimpinku. Meski kadang harus mengecewakan dan menyakiti hati orang lain, meski tak jarang akupun dibuat kecewa dan sakit hati orang lain, tak mengapa. Aku hanya berniat untuk ikhtiar. Berusaha dengan diiringi doa. Pedas memang, saat ikhtiar kita tak mulus seperti yang kita harapkan. Terkadang yang datang tak sesuai kriteria. Aku masih memberi kesempatan buatku untuk membuka diri, walaupun pada akhirnya aku tak mampu memaksakan diri untuk bisa memantapkan hati dengannya. Tak jarang, ketika yang datang telah membuatku berharap dengan sejuta impian bersamanya, namun ternyata ia seperti tak menginginkan, dan akupun merelakan.

Jodoh itu misterius. Dengan siapa, kapan, bagaimana, dan di mana jodoh kita, hanya Allah yang mampu menjawabnya. Manusia lemah dengan selemah-lemahnya. Walaupun sudah sangat mantap di hati, apa daya jika Allah belum meridhoi. Walaupun sejauh apapun ia berada, akan mendekatlah bila Allah telah menentukan ia sebagai jodoh kita. Hanya ikhtiar dan doa yang dapat aku lakukan.

About maryaqibtiy

I'm a girl. I had never been to school in Semarang State University majoring in mathematics S1. Currently, I work at Al Madina Islamic elementary school , as a math teacher..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s