Apa yang kau cari sebenarnya, Marya? Pertanyaan yang cukup sederhana tapi butuh analisis dan perenungan terlebuh dahulu untuk menjawabnya. Sebab, aku sendiri tidak tahu pasti tentang apa yang selama ini aku cari. Jodoh? Iya, aku memang sedang mencari jodoh. Meskipun ada beberapa pria yang berusaha mendekat, rasanya aku belum begitu yakin dengan salah satu di antara mereka. Lalu, terkadang timbul pertanyaan susulan. Pria seperti apa sih yang kau cari. Oh… aku juga tidak tahu pasti. Yang jelas, pria yang bisa membuatku nyaman dengan kemantapan hati dan bisa membuatku merasa begitu berarti. Meskipun aku tak tahu siapa jodohku sebenarnya, tetapi aku yakin Allah telah menyiapkannya untukku, akupun sabar menanti. Allah Maha Tahu, siapa jodohku, kapan saat yang tepat aku bertemu dengannya, dalam keadaan seperti apa dan di mana. tiada keraguan di hatiku, yang Allah berikan itulah yang terbaik. Hanya kesabaran yang selalu aku sisipkan di hatiku dalam penantian yang entah kapan ujungnya. Harapanku ada pada-Nya. Sebab, jika aku berharap pada manusia, yang ada hanyalah kecewa. Sudah berulangkali aku membuktikannya. Ya… berulangkali dibuat kecewa dan mungkin juga sering membuat kecewa.

 

Kata Bang Tere Liye, hiasilah masa penantianmu dengan banyak berbuat baik, melakukan hal positif, dan prestatif. Jika ternyata yang kau nanti tak sesuai harapan, masih ada prestasi dan hal-hal positif yang kamu bisa dapatkan dan lakukan, daripada sekedar menanti tanpa melakukan sesuatupun yang berarti. Itu benar adanya. Nasehat itu super sekali buatku. Aku yang haus akan ilmu, yang berjuang untuk bisa melanjutkan studi ke program pascasarjana, yang tak kenal lelah mengejar beasiswa, merasa semakin tertantang dengan hal itu. Kata-kata Bang Tere terus berdendang di otakku. Mengisi penantian dengan kebaikan, yaitu menuntut ilmu. Walau terkadang aku sendiri heran dengan semangat yang ada dalam diriku, semangat untuk terus maju yang tak pernah padam. Ingin sekali aku bercerita tentang lika-liku hidupku dalam perjalanan untuk mendapatkan beasiswa s2. Kegagalan yang tak terhitung jumlahnya itu sudah biasa. Uang pendaftaran yang harus aku keluarkan lalu aku relakanpun sudah biasa. Ambang kesuksesan yang hampir aku raih, tinggal satu tahap, wawancara dan pasti diterima, karena suatu hal yang tak memungkinkan, lalu aku gugur, itu juga sudah biasa. Yang luar biasa adalah, saat aku memutuskan untuk tetap melanjutkan S2, apapun kondisinya. Saat itu adalah saat-saat kritis dalam hidupku. Pertama, aku mengambil s2 dengan biaya sendiri, walaupun sambil mengajukan beasiswa. Ini buukanlah keputusan yang mudah. Aku harus berjuang menghidupi diri sendiri dan mencari biaya untuk kuliahku sendiri. Aku yang sudah memiliki penghasilan dari sekolah tempatKU mengajar, yang mungkin bisa dikatakan penghasilannya di bawah UMR, tetap mencari sambilan lain dengan mengajar les private dan mengajar di sebuah bimbel. Aku yakin aku bisa membiayai hidupku sendiri, di samping membantu membiayai kuliah adikku yang masih duduk di bangku semester 1. Kedua, rencana kuliah yang aku sembunyikan rapat-rapat akhirnya terdengar oleh orang tuaku. Mereka begitu mengkhawatirkanku. Melihat usiaku yang sudah cukup matang tetapi tidak segera menikah, malah terus-terusan menuntut ilmu. Ditambah lagi kuliahku dengan biaya sendiri dengan biaya yang cukup mahal, semakin menanbah kekhawatiran orang tuaku. Ibuku sendiri seperti tidak rela jika kau harus kuliah lagi dengan biaya sendiri. Akupun tetap mengajukan berbagai alasan, biaya yang sudah terlanjur masuklah, harapanku yang begitu besarlah, keinginanku yang sudah lama lah, dan berbagai alasan lain. Hingga akhirnya mereka merestui langkahku, walaupun hanya untuk semester ini saja. Katanya, jika semester berikutnya beasiswa tak cair juga, maka harus dilepas. Kuliahpun aku jalani dengan senang hati, hari-hari yang begitu menyenangkan aku nikmati, mengajar di sekolah, kuliah, mengajar di bimbel, mengajar les private, semua itu menjadi menu harianku. Lelah tak berasa lelah. Susah tak berasa susah. Aku senang. Bahkan lebih dari sekedar senang. Kesyukuran yang begitu besar buatku. Tiga minggu sudah aku jalani dengan kenikmatan. Aku masih ingat dengan jelas, kuliah perdana tanggal 2 dan 3 September 2014. Kuliah minggu kedua tanggal  9 dan 10 September 2014, dan kuliah minggu ketiga tanggal 17 dan 17 September 2014 yang semuanya terjadwal hari Senin dan Selasa saja. Kuliah yang ternyata terjadwal pagi, membuatku harus menyesuaikan jadwal mengajarku di sekolah dengan jadwal kuliah. Aku masih bisa mengajar di sekolah pada hari Senin di sela-sela jam istirahat kuliah. Namun, pada hari Selasa, karena jam kuliah tidak memungkinkan aku untuk engambil jam mengajar di sekolah, akupun mendapatkanijin dari pihak sekolah. Jadwal mengajarku di hari Selasa, yang kebetulan hanya tiga jam pelajaran saja, berhasil aku tukarkan dengan guru lain. Semua lancar dan beres. Ketiga, tepat pada hari Sabtu, 20 September 2014, sekitar pukul 10.00 WIB, kemarin, aku menerima SMS dari Bapak Kepsekku. Beliau memintaku untuk datang ke ruangannya karena ada pihak yayasan yang ingin menemuiku. Perasaanku sudah tidak enak. Masih terbayang dalam ingatanku ketika aku disidang karena kasus besarku, mendaftar kuliah S2, yang notabene merupakan larangan bagi guru di sekolahku, meski aturan itu masing mengambnag dan tidak jelas. Lepas dari semua itu, aku berusaha berpikiran positif. Akupun melangkah menuju ruang kepala sekolah dengan perasaan yang tak karuan. Aku masuk dengan santai, tenang, dan berusaha menenangkan diri. Satu demi satu kata-kata meluncur ke telingaku. Seperti tak ada yang perlu aku risaukan. Karena kalimat pembuka itu seolah membawa keselamatan buatku, bukan bencana. Lalu, mulailah beterbangan kata demi kata, pandanganku sedikit kabur, pendengaranku justru semakin jelas, seperti mendengar deru pesawat yang memekakkan telinga bukan karena pagi itu ramai penuh dengan suara anak-anak maupun suara alat musik yang mereka mainkan, tetapi hanya karena untaian kata yang bapak yayasan sampaikan. Aku terus berusaha menenangkan diri. Kering airmataku. Tak seperti saat aku menghadapi hal yang sama dau bulan lalu. Namun, lihatlah mulutku yang tak sedikitpun bergerak. Ia mengatup rapat, layaknya mulut kerang yang mengatup. Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa diam sambil terus mencerna untaian kalimat yang berhamburan lagi, yang intinya hanya satu, aku diminta untuk mengundurkan diri. Dengan alasan, mata pelajaran yang aku ampu tak linear dengan bacground pendidikanku dan agar aku bisa fokus dalam pendidikanku. Tetapi aku masih kerasan dan nyaman di sini, teriakku dalam hati. Tetapi guru lain juga sebagian besar tak mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan faknya, bantahku dalam diri. Pada akhirnya, perbincangan searah itu usai dengan damai. Kepsek SD, SMP, dan salah satu waka ternyata telah berkumpul di depan ruang kepsek. Aku keluar dengan seuntai senyum pahit. Merekapun dengan cepat berhambur demi melihat kami keluar. Kepsekku memintaku kembali menuju ruangnya, akupun bercerita. Beliau memahami kondisiku, menguatkanku, menghiburku, mendukungku, dan berusaha memberiku solusi. Satu hal yang paling aku takutkan, bagaimana jika orang tuaku mengetahui apa yang kini menimpaku. Ya Allah, aku yakin ada rahasia indah yang hendak Engkau tunjukkan kepadaku, hiburku.

Hari ini, Minggu, 21 September 2014, aku masih terduduk di sudut kamar kecil yang sudah hampir dua tahun aku huni. Sebuah kantor TPQ yang berhasil disulap menjadi hunian yang nyaman, sebagai fasilitas gratis untuk  guru-guru muda yang mau tinggal di sini. Sebuah saksi nyata atas apa yang aku alami. Senang-sedihku, tawa-airmata, tenang-galau, cinta-benci, semua berbaur jadi satu, menghiasi hidupku di sini, di kamar ini. Berat rasanya jika harus pergi untuk saat ini. Aku tak tahu lagi ke mana aku harus pergi. Seharusnya aku pergi saat ada pangeran yang menjemput untuk menghalalkanku. Sakit rasanya jika aku harus pergi dengan membawa embel-embel ‘diminta untuk mengundurkan diri’. Hatiku masih di sini. Hatiku telah menyatu dengan sekolah ini. Menyatu bagaikan kulit dan daging. Aku mengakui betul kesalahanku. Ya Allah, semoga aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku dengan mempersembahkan pengabdian terbaikku untuk sekolah ini.

September oh September… September yang seharusnya lebih aku kenal dengan istilah September Ceria, kini aku harus memaksakan diriku untuk tetap ceria. Jangan ada tangis. Jangan. Apapun yang akan terjadi besok, itulah yang terbaik. Ya Allah, mudahkanlah. Aamiin.

 

About maryaqibtiy

I'm a girl. I had never been to school in Semarang State University majoring in mathematics S1. Currently, I work at Al Madina Islamic elementary school , as a math teacher..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s