Terbongkar sudah rahasiaku yang aku sembunyikan selama ini. 2,5 bulan lamanya aku menutupi statusku sebagai pengangguran. Kini, kakak-kakakku, adik-adikku, dan saudara-saudaraku telah mengetahui apa yang selama ini aku tutupi. Aku tidak menyangka kalau ternyata, seorang kawan yang aku anggap baik, telah menceritakan kepada keluargaku tentang apa yang telah aku alami. Sakit rasanya. Bukan aku menutup diri dari keluargaku, aku hanya tidak ingin melihat mereka mengkhawatirkanku, aku tidak mau mereka merasa kasihan terhadapku, aku tidak ingin tampak lemah di hadapan mereka. Pliss dech, aku sudah cukup dewasa. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu mana jalan terbaik yang harus aku pilih.

Sejak pemanggilanku oleh yayasan yang menyatakan bahwa aku diminta mengundurkan diri dari sekolah tempatku bekerja, dengan alasan agar aku bisa lebih fokus dalam melanjutkan studi s2, aku merasa menjadi seorang pendosa. Aku mencoba membela diri waktu itu. Aku jelaskan bahwa aku mampu menjalankan tugasku dan bisa menyelesaikan kewajibanku dengan baik tanpa meninggalkan kuliahku. Logis menurutku. Tapi apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga. Aku tak daya. Mungkin inilah cara Allah mengangkatku dari perlakuan yang takk adil selama ini terhadapku. Namun, cukup sulit bagiku untuk menerima kenyataan pahit itu. Rasanya seperti menelan jamu brotowali, pahit sekali. Pahit yang meresap hingga ke pangkal tenggorokan dan sulit hilangnya. Oh… betapa aku serasa seperti sampah yang tak berguna. Mungkin aku salah dalam mengambil langkah. Mungkin aku kurang berhati-hati dalam bersikap. Aku sangat menyadari itu. Hingga aku merenung dalam perenungan yang cukup panjang. Aku menitikkan air mataku di setiap sudut gelap malam. Aku merintih menahan sesaknya dada yang seolah siap memuntahkan beratnya beban. Segala masukan aku tampung, aku dengarkan, aku terima, aku seleksi. Hingga akupun mencoba untuk meminta maaf atas khilafku dan memohon untuk tetap tinggal. Duh, betapa aku seperti peminta-minta yang sudah diusir dengan cara halus masih saja merengek dan mengais hiba. Aku merasa menjadi manusia paling bodoh, paling rendah, paling hina. Mungkin benar apa yang dikatakan temanku ‘’Putri yang terbuang’’. Hahayyy… Lebih tepatnya ‘’ Putri yang dibuang’’. (Colek Mas Aris). Eits..tapi jangan salah, meskipun untuk saat ini aku dipandang sebelah mata, tapi suatu saat nanti akan aku buktikan bahwa aku mampu mendapat gelar ‘’Putri yang terpandang’’. Ya, minimal terpandang di mata suami dan anak-anakku kelak. hehehe…. Maksimal terpandang di mata Allah. Demi membahagiakan orang tuaku, demi sebuah cita yang mulia, dan demi ilmu yang insyaallah bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara, pantanglah bagiku untuk menyerah. Menyerah berarti kalah. Kalah melawan hawa nafsu. Kalah melawan belenggu. Kalah segala-galanya. Dengan mengucap bismillah, aku yakin Allah akan berikan jalan yang terbaik. Meski hingga kini, aku masih bersusah payah mengais rejeki, meskipun sejuta lamaran kerja telah aku tebarkan dan belum ada panggilan, meskipun sejuta air mata aku titikkan untuk tetap bergerak maju, tak gentarlah aku menuju kesuksesan yang hendak kutuju.

Kini, saatnya aku bergerak lebih cepat lagi. Tak ada yang boleh mengkhawatirkan keadaan dan kondisiku meskipun aku dalam posisi terpuruk sekalipun. Bahkan jika suatu saat nanti orang tuaku terpaksa mengetahui keadaanku yang sesungguhnya, tak perlu lah mereka merasa khawatir terhadapku. Setiap bisa berubah. Dari keadaan yang serba nyaman dan tenang menjadi keadaan yang runyam dan mengkhawatirkan. Dari keadaan yang penuh kenmudahan, kenikmatan dan keindahan sehingga membuat iri setiap insan yang memandang, menjadi keadaan yang mengenaskan dan memalukan yang membuat orang mencibir dan memojokkan. Namun, setiap musibah selalu ada hikmah. Setiap kejadian selalu membawa pelajaran. Dan setiap keinginan untuk maju selalu ada rintangan yang menghalangi. Namun, setiap ada keinginan pasti ada jalan.

Khawatir itu wajar. Takut itu perlu. Tapi khawatir dan takut yang tak diimbangi dengan ikhtiar dan do’a sama saja. Selama Allah masih mengijinkan kedua kaki ini menginjak buminya yang luas ini, selama itupula aku berusaha terus untuk menjadi manusia yang berarti. I’maluu fauqo maa ‘amiluu… all out,, Man jadda wajada. Bismillah. Aku berniat menempuh jalan ini dalam rangka mencari ridho-Mu Duhai Rabbku… Permudahlah, perlancarlah, dan berkahilah. Aamiin.

About maryaqibtiy

I'm a girl. I had never been to school in Semarang State University majoring in mathematics S1. Currently, I work at Al Madina Islamic elementary school , as a math teacher..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s