Jangan Khawatirkan Aku

Terbongkar sudah rahasiaku yang aku sembunyikan selama ini. 2,5 bulan lamanya aku menutupi statusku sebagai pengangguran. Kini, kakak-kakakku, adik-adikku, dan saudara-saudaraku telah mengetahui apa yang selama ini aku tutupi. Aku tidak menyangka kalau ternyata, seorang kawan yang aku anggap baik, telah menceritakan kepada keluargaku tentang apa yang telah aku alami. Sakit rasanya. Bukan aku menutup diri dari keluargaku, aku hanya tidak ingin melihat mereka mengkhawatirkanku, aku tidak mau mereka merasa kasihan terhadapku, aku tidak ingin tampak lemah di hadapan mereka. Pliss dech, aku sudah cukup dewasa. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Aku tahu mana jalan terbaik yang harus aku pilih.

Sejak pemanggilanku oleh yayasan yang menyatakan bahwa aku diminta mengundurkan diri dari sekolah tempatku bekerja, dengan alasan agar aku bisa lebih fokus dalam melanjutkan studi s2, aku merasa menjadi seorang pendosa. Aku mencoba membela diri waktu itu. Aku jelaskan bahwa aku mampu menjalankan tugasku dan bisa menyelesaikan kewajibanku dengan baik tanpa meninggalkan kuliahku. Logis menurutku. Tapi apalah daya, nasi telah menjadi bubur. Karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga. Aku tak daya. Mungkin inilah cara Allah mengangkatku dari perlakuan yang takk adil selama ini terhadapku. Namun, cukup sulit bagiku untuk menerima kenyataan pahit itu. Rasanya seperti menelan jamu brotowali, pahit sekali. Pahit yang meresap hingga ke pangkal tenggorokan dan sulit hilangnya. Oh… betapa aku serasa seperti sampah yang tak berguna. Mungkin aku salah dalam mengambil langkah. Mungkin aku kurang berhati-hati dalam bersikap. Aku sangat menyadari itu. Hingga aku merenung dalam perenungan yang cukup panjang. Aku menitikkan air mataku di setiap sudut gelap malam. Aku merintih menahan sesaknya dada yang seolah siap memuntahkan beratnya beban. Segala masukan aku tampung, aku dengarkan, aku terima, aku seleksi. Hingga akupun mencoba untuk meminta maaf atas khilafku dan memohon untuk tetap tinggal. Duh, betapa aku seperti peminta-minta yang sudah diusir dengan cara halus masih saja merengek dan mengais hiba. Aku merasa menjadi manusia paling bodoh, paling rendah, paling hina. Mungkin benar apa yang dikatakan temanku ‘’Putri yang terbuang’’. Hahayyy… Lebih tepatnya ‘’ Putri yang dibuang’’. (Colek Mas Aris). Eits..tapi jangan salah, meskipun untuk saat ini aku dipandang sebelah mata, tapi suatu saat nanti akan aku buktikan bahwa aku mampu mendapat gelar ‘’Putri yang terpandang’’. Ya, minimal terpandang di mata suami dan anak-anakku kelak. hehehe…. Maksimal terpandang di mata Allah. Demi membahagiakan orang tuaku, demi sebuah cita yang mulia, dan demi ilmu yang insyaallah bisa memberikan kontribusi untuk kemajuan keluarga, masyarakat, agama, bangsa, dan negara, pantanglah bagiku untuk menyerah. Menyerah berarti kalah. Kalah melawan hawa nafsu. Kalah melawan belenggu. Kalah segala-galanya. Dengan mengucap bismillah, aku yakin Allah akan berikan jalan yang terbaik. Meski hingga kini, aku masih bersusah payah mengais rejeki, meskipun sejuta lamaran kerja telah aku tebarkan dan belum ada panggilan, meskipun sejuta air mata aku titikkan untuk tetap bergerak maju, tak gentarlah aku menuju kesuksesan yang hendak kutuju.

Kini, saatnya aku bergerak lebih cepat lagi. Tak ada yang boleh mengkhawatirkan keadaan dan kondisiku meskipun aku dalam posisi terpuruk sekalipun. Bahkan jika suatu saat nanti orang tuaku terpaksa mengetahui keadaanku yang sesungguhnya, tak perlu lah mereka merasa khawatir terhadapku. Setiap bisa berubah. Dari keadaan yang serba nyaman dan tenang menjadi keadaan yang runyam dan mengkhawatirkan. Dari keadaan yang penuh kenmudahan, kenikmatan dan keindahan sehingga membuat iri setiap insan yang memandang, menjadi keadaan yang mengenaskan dan memalukan yang membuat orang mencibir dan memojokkan. Namun, setiap musibah selalu ada hikmah. Setiap kejadian selalu membawa pelajaran. Dan setiap keinginan untuk maju selalu ada rintangan yang menghalangi. Namun, setiap ada keinginan pasti ada jalan.

Khawatir itu wajar. Takut itu perlu. Tapi khawatir dan takut yang tak diimbangi dengan ikhtiar dan do’a sama saja. Selama Allah masih mengijinkan kedua kaki ini menginjak buminya yang luas ini, selama itupula aku berusaha terus untuk menjadi manusia yang berarti. I’maluu fauqo maa ‘amiluu… all out,, Man jadda wajada. Bismillah. Aku berniat menempuh jalan ini dalam rangka mencari ridho-Mu Duhai Rabbku… Permudahlah, perlancarlah, dan berkahilah. Aamiin.

Penantian Yang Tak Sederhana

Alhamdulillah. Segala puji bagi-Mu Ya Allah. Atas segala nikmat yang tiada terhitung, tiada terbilang. Hari ini masih Engkau berikan nafas yang berhiaskan iman dan Islam. Hari ini pula masih Engkau limpahkan berjuta nikmat sehat yang tak terbilang. Atas Kemahabesaran-Mu, aku masih mampu menapaki bumi yang indah ini. Atas Kemahaagungan-Mu, aku masih dikaruniai pikiran dan perasaan yang luar biasa hebatnya. Meskipun, tak jarang keluh kesah menghampiri. Tak jarang pula rasa syukur datang dan pergi.

Allahku… Dalam hati aku selalu bertanya, bilamana aku tak lagi bersua dengan dunia. Bilamana umurku habis ditelan masa tak bersisa. Hanya jerit tangis dalam hati yang mampu bersuara. Namun, sesal sedikit saja mampir menyapa, tanpa meninggalkan perubahan dan perbaikan menuju jalan yang semestinya. Sedang diri ini sadar betul akan dosa yang kian hari kian menumpuk menggunung. Hati ini yang kian lama kian gersang akibat jutaan kemaksiatan seolah telah menjadi menu harian yang begitu nikmatnya disantap tanpa ada sedikitpun perasaan bersalah di dalamnya. Hati yang selalu lena dengan gemilaunya dunia yang menawarkan berjuta keindahan yang tak berkesudahan. Hati yang tak pernah berhenti untuk terus mengejar segalanya yang bersifat fana. Hati yang diwarnai dengan beruntai-untai perasaan penuh warna cinta yang menyilaukan. Cinta yang sementara. Cinta pada dunia. Cinta pada manusia. Cinta yang hanya permainan belaka. Cinta yang tak semestinya. Cinta yang membutakan pandangan mata, mentulikan pendengaran telinga, dan membisukan mulut ini untuk senantiasa menebarkan kebaikan dan melantunkan dzikir yang selayaknya. Cinta yang telah membunuh waktu dengan sadisnya. Cinta yang telah membuat hati mengeras sekeras-kerasnya. Cinta yang telah membuat hati lupa akan Rabb Sang Pemilik Sejatinya Cinta.

Oh…. cinta. Seandainya engkau berjalan sebagaimana mestinya, tentu kegalauan ini tak melanda. Seandainya engkau bertahta pada singgasana yang selayaknya, pasti kegamangan ini ta menyapa. Seadainya engkau menyusup dalam jiwa dengan jalan yang sesuai dengan kehendak-Nya, tentu keresahan ini tak membuat hidupku dipenuhi dengan keresahan tiada yang tak berkesudahan. Seandainya engkau adalah cinta sejati yang berselimut cahaya ilahi, tentu engkau akan datang dan menyapa dalam kalam yang suci penuh dengan keridhoan-Nya. Namun, kapankah cinta sejatiku membuaka tirainya dan menyapaku dengan segera…

Betapa banyak pasang mata yang kupandang begitu indahnya. Bergandengan dan bermesraan dalam jalinan ukhuwah yang dihalalkan. Betapa banyak pasangan menari-nari tersenyum indah menawarkan sejuta kebahagiaan di depan mata. Sedangkan hati ini semakin teriris karena terlalu lama menantikan saat itu tiba. Betapa banyak pilihan silih berganti datang menghampiri, namun hati ini tetap membisu dalam ketakutan dan kekhawatiran serta kebimbangan. Betapa oh betapa…

Sungguh mereka memiliki sejuta untaian kata indah namun menusuk. Mudah sekali kalian mengatakannya. Mudah sekali kalian berargumen dengan sekehendah hati. Sedang yang di sini mengalaminya dengan berbagai dilematika dan problematika yang tak sederhana. Seandainya engkau ada pada posisi ini, masihkah engkau berani merangkai kata dengan semena-mena. Oh… Rabbi, limpahkanlah kesabaran dalam hati untuk menjalani penantian yang tak sederhana ini. Aamiin.

                                                                                                                  Semarang, 2 Desember 2014

Saat Aku Diminta untuk Mengundurkan Diri

Apa yang kau cari sebenarnya, Marya? Pertanyaan yang cukup sederhana tapi butuh analisis dan perenungan terlebuh dahulu untuk menjawabnya. Sebab, aku sendiri tidak tahu pasti tentang apa yang selama ini aku cari. Jodoh? Iya, aku memang sedang mencari jodoh. Meskipun ada beberapa pria yang berusaha mendekat, rasanya aku belum begitu yakin dengan salah satu di antara mereka. Lalu, terkadang timbul pertanyaan susulan. Pria seperti apa sih yang kau cari. Oh… aku juga tidak tahu pasti. Yang jelas, pria yang bisa membuatku nyaman dengan kemantapan hati dan bisa membuatku merasa begitu berarti. Meskipun aku tak tahu siapa jodohku sebenarnya, tetapi aku yakin Allah telah menyiapkannya untukku, akupun sabar menanti. Allah Maha Tahu, siapa jodohku, kapan saat yang tepat aku bertemu dengannya, dalam keadaan seperti apa dan di mana. tiada keraguan di hatiku, yang Allah berikan itulah yang terbaik. Hanya kesabaran yang selalu aku sisipkan di hatiku dalam penantian yang entah kapan ujungnya. Harapanku ada pada-Nya. Sebab, jika aku berharap pada manusia, yang ada hanyalah kecewa. Sudah berulangkali aku membuktikannya. Ya… berulangkali dibuat kecewa dan mungkin juga sering membuat kecewa.

 

Kata Bang Tere Liye, hiasilah masa penantianmu dengan banyak berbuat baik, melakukan hal positif, dan prestatif. Jika ternyata yang kau nanti tak sesuai harapan, masih ada prestasi dan hal-hal positif yang kamu bisa dapatkan dan lakukan, daripada sekedar menanti tanpa melakukan sesuatupun yang berarti. Itu benar adanya. Nasehat itu super sekali buatku. Aku yang haus akan ilmu, yang berjuang untuk bisa melanjutkan studi ke program pascasarjana, yang tak kenal lelah mengejar beasiswa, merasa semakin tertantang dengan hal itu. Kata-kata Bang Tere terus berdendang di otakku. Mengisi penantian dengan kebaikan, yaitu menuntut ilmu. Walau terkadang aku sendiri heran dengan semangat yang ada dalam diriku, semangat untuk terus maju yang tak pernah padam. Ingin sekali aku bercerita tentang lika-liku hidupku dalam perjalanan untuk mendapatkan beasiswa s2. Kegagalan yang tak terhitung jumlahnya itu sudah biasa. Uang pendaftaran yang harus aku keluarkan lalu aku relakanpun sudah biasa. Ambang kesuksesan yang hampir aku raih, tinggal satu tahap, wawancara dan pasti diterima, karena suatu hal yang tak memungkinkan, lalu aku gugur, itu juga sudah biasa. Yang luar biasa adalah, saat aku memutuskan untuk tetap melanjutkan S2, apapun kondisinya. Saat itu adalah saat-saat kritis dalam hidupku. Pertama, aku mengambil s2 dengan biaya sendiri, walaupun sambil mengajukan beasiswa. Ini buukanlah keputusan yang mudah. Aku harus berjuang menghidupi diri sendiri dan mencari biaya untuk kuliahku sendiri. Aku yang sudah memiliki penghasilan dari sekolah tempatKU mengajar, yang mungkin bisa dikatakan penghasilannya di bawah UMR, tetap mencari sambilan lain dengan mengajar les private dan mengajar di sebuah bimbel. Aku yakin aku bisa membiayai hidupku sendiri, di samping membantu membiayai kuliah adikku yang masih duduk di bangku semester 1. Kedua, rencana kuliah yang aku sembunyikan rapat-rapat akhirnya terdengar oleh orang tuaku. Mereka begitu mengkhawatirkanku. Melihat usiaku yang sudah cukup matang tetapi tidak segera menikah, malah terus-terusan menuntut ilmu. Ditambah lagi kuliahku dengan biaya sendiri dengan biaya yang cukup mahal, semakin menanbah kekhawatiran orang tuaku. Ibuku sendiri seperti tidak rela jika kau harus kuliah lagi dengan biaya sendiri. Akupun tetap mengajukan berbagai alasan, biaya yang sudah terlanjur masuklah, harapanku yang begitu besarlah, keinginanku yang sudah lama lah, dan berbagai alasan lain. Hingga akhirnya mereka merestui langkahku, walaupun hanya untuk semester ini saja. Katanya, jika semester berikutnya beasiswa tak cair juga, maka harus dilepas. Kuliahpun aku jalani dengan senang hati, hari-hari yang begitu menyenangkan aku nikmati, mengajar di sekolah, kuliah, mengajar di bimbel, mengajar les private, semua itu menjadi menu harianku. Lelah tak berasa lelah. Susah tak berasa susah. Aku senang. Bahkan lebih dari sekedar senang. Kesyukuran yang begitu besar buatku. Tiga minggu sudah aku jalani dengan kenikmatan. Aku masih ingat dengan jelas, kuliah perdana tanggal 2 dan 3 September 2014. Kuliah minggu kedua tanggal  9 dan 10 September 2014, dan kuliah minggu ketiga tanggal 17 dan 17 September 2014 yang semuanya terjadwal hari Senin dan Selasa saja. Kuliah yang ternyata terjadwal pagi, membuatku harus menyesuaikan jadwal mengajarku di sekolah dengan jadwal kuliah. Aku masih bisa mengajar di sekolah pada hari Senin di sela-sela jam istirahat kuliah. Namun, pada hari Selasa, karena jam kuliah tidak memungkinkan aku untuk engambil jam mengajar di sekolah, akupun mendapatkanijin dari pihak sekolah. Jadwal mengajarku di hari Selasa, yang kebetulan hanya tiga jam pelajaran saja, berhasil aku tukarkan dengan guru lain. Semua lancar dan beres. Ketiga, tepat pada hari Sabtu, 20 September 2014, sekitar pukul 10.00 WIB, kemarin, aku menerima SMS dari Bapak Kepsekku. Beliau memintaku untuk datang ke ruangannya karena ada pihak yayasan yang ingin menemuiku. Perasaanku sudah tidak enak. Masih terbayang dalam ingatanku ketika aku disidang karena kasus besarku, mendaftar kuliah S2, yang notabene merupakan larangan bagi guru di sekolahku, meski aturan itu masing mengambnag dan tidak jelas. Lepas dari semua itu, aku berusaha berpikiran positif. Akupun melangkah menuju ruang kepala sekolah dengan perasaan yang tak karuan. Aku masuk dengan santai, tenang, dan berusaha menenangkan diri. Satu demi satu kata-kata meluncur ke telingaku. Seperti tak ada yang perlu aku risaukan. Karena kalimat pembuka itu seolah membawa keselamatan buatku, bukan bencana. Lalu, mulailah beterbangan kata demi kata, pandanganku sedikit kabur, pendengaranku justru semakin jelas, seperti mendengar deru pesawat yang memekakkan telinga bukan karena pagi itu ramai penuh dengan suara anak-anak maupun suara alat musik yang mereka mainkan, tetapi hanya karena untaian kata yang bapak yayasan sampaikan. Aku terus berusaha menenangkan diri. Kering airmataku. Tak seperti saat aku menghadapi hal yang sama dau bulan lalu. Namun, lihatlah mulutku yang tak sedikitpun bergerak. Ia mengatup rapat, layaknya mulut kerang yang mengatup. Aku tak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa diam sambil terus mencerna untaian kalimat yang berhamburan lagi, yang intinya hanya satu, aku diminta untuk mengundurkan diri. Dengan alasan, mata pelajaran yang aku ampu tak linear dengan bacground pendidikanku dan agar aku bisa fokus dalam pendidikanku. Tetapi aku masih kerasan dan nyaman di sini, teriakku dalam hati. Tetapi guru lain juga sebagian besar tak mengajar mata pelajaran yang sesuai dengan faknya, bantahku dalam diri. Pada akhirnya, perbincangan searah itu usai dengan damai. Kepsek SD, SMP, dan salah satu waka ternyata telah berkumpul di depan ruang kepsek. Aku keluar dengan seuntai senyum pahit. Merekapun dengan cepat berhambur demi melihat kami keluar. Kepsekku memintaku kembali menuju ruangnya, akupun bercerita. Beliau memahami kondisiku, menguatkanku, menghiburku, mendukungku, dan berusaha memberiku solusi. Satu hal yang paling aku takutkan, bagaimana jika orang tuaku mengetahui apa yang kini menimpaku. Ya Allah, aku yakin ada rahasia indah yang hendak Engkau tunjukkan kepadaku, hiburku.

Hari ini, Minggu, 21 September 2014, aku masih terduduk di sudut kamar kecil yang sudah hampir dua tahun aku huni. Sebuah kantor TPQ yang berhasil disulap menjadi hunian yang nyaman, sebagai fasilitas gratis untuk  guru-guru muda yang mau tinggal di sini. Sebuah saksi nyata atas apa yang aku alami. Senang-sedihku, tawa-airmata, tenang-galau, cinta-benci, semua berbaur jadi satu, menghiasi hidupku di sini, di kamar ini. Berat rasanya jika harus pergi untuk saat ini. Aku tak tahu lagi ke mana aku harus pergi. Seharusnya aku pergi saat ada pangeran yang menjemput untuk menghalalkanku. Sakit rasanya jika aku harus pergi dengan membawa embel-embel ‘diminta untuk mengundurkan diri’. Hatiku masih di sini. Hatiku telah menyatu dengan sekolah ini. Menyatu bagaikan kulit dan daging. Aku mengakui betul kesalahanku. Ya Allah, semoga aku masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku dengan mempersembahkan pengabdian terbaikku untuk sekolah ini.

September oh September… September yang seharusnya lebih aku kenal dengan istilah September Ceria, kini aku harus memaksakan diriku untuk tetap ceria. Jangan ada tangis. Jangan. Apapun yang akan terjadi besok, itulah yang terbaik. Ya Allah, mudahkanlah. Aamiin.

 

Bingung…Karir, Jodoh, atau Pendidikan Dulu

Umurku memang sudah tidak muda lagi, melainkan dewasa. Di usia yang sudah matang ini, layaknya gadis-gadis lainnya, akupun ingin segera mengakhiri masa lajangku. Ingin segera mengganti statusku. Bayang-bayang keluarga kecil bahagia terus membayangi hidupku. Apalagi melihat kawan-kawan SMP, SMA, kuliah, bahkan rekan-rekan kerjaku hampir semuanya telah memiliki ‘gandengan’, bahkan banyak pula yang sudah punya lebih dari satu ‘gendongan’ alias anak. Keinginan itu semakin menguat lagi saat seorang yang pernah mengisi hidupku  menikah dengan gadis lain yang pernah membuatku sakit karena menahan rasa cemburu. Rasanya sakit sekali, rasa sakit yang bisa diibaratkan seperti kue lapis, tebal. Padahal, baru kemarin aku merasakan betapa nikmatnya dikhianati, dipermainkan, dan ditinggalkan oleh seorang lelaki yang aku yakini sebagai calon imam terbaikku yang akan menghalalkanku. Oh.. betapa bodohnya aku yang terlalu larut dalam kesabaran, yang terlalu lurus dalam baiknya persangkaan, yang terlalu mudah untuk memberikan sepenuhnya kepercayaan. Seandainya dulu aku tidak mudah tergoda dengan rayuan kata ”ta’aruf”, mungkin aku tak akan merasa sekecil ini dalam menghadapi cobaan. Entah kabut apa yang berhasil membutakan kedua mata dan hatiku saat itu. ”Dia taat dalam agama. Dia kental dalam pendidikan Islam. Dia berasal dari keluarga terhormat yang basic agamanya kental. Dia putera kiai. Dia… Dia…”. Dan berjuta bisikan lainnya yang mengelabuhi hatiku. Oh Rabbi, benar saja orang yang tampak baik di mata, belum tentu baik juga menurut-Mu.

Orang-orang di sekelilingku tak pernah bosan bertanya, kapan nikah, kapan menyusul, kapan ganti status, orang mana calonnya, bla.. bla.. bla.. Namun, insyaallah aku pun tidak akan pernah bosan untuk terus berusaha menemukan calon pemimpinku. Meski kadang harus mengecewakan dan menyakiti hati orang lain, meski tak jarang akupun dibuat kecewa dan sakit hati orang lain, tak mengapa. Aku hanya berniat untuk ikhtiar. Berusaha dengan diiringi doa. Pedas memang, saat ikhtiar kita tak mulus seperti yang kita harapkan. Terkadang yang datang tak sesuai kriteria. Aku masih memberi kesempatan buatku untuk membuka diri, walaupun pada akhirnya aku tak mampu memaksakan diri untuk bisa memantapkan hati dengannya. Tak jarang, ketika yang datang telah membuatku berharap dengan sejuta impian bersamanya, namun ternyata ia seperti tak menginginkan, dan akupun merelakan.

Jodoh itu misterius. Dengan siapa, kapan, bagaimana, dan di mana jodoh kita, hanya Allah yang mampu menjawabnya. Manusia lemah dengan selemah-lemahnya. Walaupun sudah sangat mantap di hati, apa daya jika Allah belum meridhoi. Walaupun sejauh apapun ia berada, akan mendekatlah bila Allah telah menentukan ia sebagai jodoh kita. Hanya ikhtiar dan doa yang dapat aku lakukan.

Facebook adalah candu

Facebook merupakan salah satu sosil media yang semakin hari semakin marak, tidak hanya di kalangan remaja, namun kalangan dewasa bahkan anak-anak di bawah umur pun banyak yang ssudah mengenal jejaring sosial yang satu ini. Jutaan orang memakainya di manapun dan kapanpun. Fasilitas yang menarik dan mudah membuat orang merasayaman menggunakannya. Selain untuk sekedar berkomunikasi, facebook juga sangat efektif untuk media penyampai informasi, terutama untuk kepentingan bisnis, pendidikan, keagamaan, dsb. Banyak juga yang memanfaatkannya untuk sekedar hiburan atau sebagai fasilitas yang sangat praktis mencurahkan perasaan, atau dalam bahasa gaulnya ‘curhat’, terutama yang sedang dilanda kegalauan..

 

Bersambung.

Naskah Stock Media

Assalamu’alaikum. Bu Manik, ini naskah yang sudah saya revisi….

Naskah marya revisi 3

BEASISWA S2 IAIN WALISONGO SEMARANG TAHUN 2014

Hai, temen-temen para pemburu beasiswa, khususnya beasiswa S2 dan S3, ada info menarik nih buat temen-temen semua. IAIN Walisongo Semarang pada tahun anggaran 2014 akan memberikan Beasiswa S.2 dan S.3 kepada para lulusan S.1 dan dosen tetap IAIN Walisongo.

Sumber pembiayaan Beasiswa ini berasal dari GOI yang dituangkan dalam DIPA-Rupiah Murni Pendampingan (RM-P) IAIN Walisongo Semarang. Bagi para calon peserta yang dinyatakan lolos seleksi akan menerima biaya kuliah secara penuh. Beasiswa S.2 diberikan kepada lulusan S.1 baik dari IAIN Walisongo maupun dari luar IAIN Walisongo.

Sedangkan beasiswa S.3 diberikan kepada para dosen tetap IAIN Walisongo yang sudah lulus S.2 tetapi mereka belum mengikuti program S.3. Kuota Beasiswa keseluruhan berjumlah 20 orang, terdiri atas beasiswa S.2 sebanyak 12 orang dan S.3 sebanyak 8 orang.

Baca lebih lanjut

Beasiswa Unggulan Tahun 2014

Beasiswa Unggulan Kemendikbud

 

Info beasiswa
  • Jenis: beasiswa biaya hidup (allowance) melalui Beasiswa Unggulan DIKNAS
  • Jumlah: 10 (sepuluh) dengan pembagian 8 Master dan 2 Bachelor
  • Nilai:
    • Untuk program Master: tiap beasiswa bernilai EUR 800 per bulan selama masa studi (1-2 tahun)
    • Untuk program Bachelor: tiap beasiswa bernilai EUR 800 per bulan untuk tahun pertama. Berdasarkan performa penerima beasiswa di tahun pertama dan ketersediaan dana, DIKNAS akan mengevaluasi apakah beasiswa akan diberikan untuk tahun berikutnya.
Deadline aplikasi 15 Juni 2014* (formulir Beasiswa Unggulan dan dokumen-dokumen pelengkap aplikasi Beasiswa Unggulan)

*mohon cek halaman ini secara rutin untuk mengetahui jika ada perubahan deadline

 

Persyaratan

  • Sudah memiliki Letter of Acceptance dari universitas Belanda yang menjadi sponsor OTS
  • Sudah lolos seleksi beasiswa OTS dan menerima tawaran dari salah satu skema OTS
  • IPK S1 min. 3.25 (untuk pendaftar program Master); Rata-rata Rapor SMA min. 8 (untuk pendaftar program Bachelor)
  • Usia pendaftar maksimal 35 tahun (untuk pendaftar program Master) atau 21 tahun (untuk pendaftar program Bachelor)
  • Memenuhi persyaratan / kategori prestasi seperti tertera di Panduan Beasiswa Unggulan
  • Melakukan pendaftaran online di website Beasiswa Unggulan website Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
  • Mengirimkan berkas-berkas persyaratan Beasiswa Unggulan dalam bentuk softcopy ke ots@nesoindonesia.or.id

 

Unduh:

 

Untuk informasi mengenai Orange Tulip Scholarship Indonesia, mohon menghubungi

Nuffic Neso Indonesia
ots@nesoindonesia.or.id
(021) 5290-2172

Klik di sini untuk mengunduh formulir pendaftaran OTS atau jika ingin membaca Frequently Asked Questions

 

Sumber: http://www.nesoindonesia.or.id/beasiswa/orange-tulip-scholarship/skema-2014-2015/skema-tambahan/beasiswa-unggulan-kemendikbud

Beasiswa P3SWOT Tahun 2014

Petunjuk Pendafataran

    1. Untuk melakukan pendaftaran, Anda harus mempunyai Account terlebih dahulu. jika Anda belum mempunyai Account, klik Buat Account
    1. Setelah Anda memiliki Account, silakan login dengan Email dan password yang telah dikonfirmasikan ke email Anda saat membuat Account. Agar lebih mudah diingat, disarankan untuk mengedit password account Anda, setelah Anda login.
    1. Pilih salah satu kategori dalam Beasiswa Unggulan P3SWOT dan lengkapi isian pada Form Keterangan Diri
    1. Lengkapi form pendaftaran Anda. terdapat 10 Form yang dapat dilengkapi, yaitu :
      1. Form Keterangan Diri (wajib diisi)
      1. Form Keterangan Asal Instansi (wajib diisi)
      1. Form Riwayat Pendidikan (wajib diisi)
      1. Form Riwayat Organisasi
      1. Form Riwayat Prestasi / Kejuaraan
      1. Form Pengalaman Kerja
      1. Form Pelatihan Lanjutan / Seminar / Kursus
      1. Form Proposal (wajib diisi)
        Proposal berisi rencana kegiatan yang akan dilakukan sesuai kriteria profesi yang dipilih termasuk anggaran yang dibutuhkan disertai lampiran sesuai dengan kebutuhan
      1. Form Rekomendasi
      1. Form Rekening dan Surat Permohonan (wajib diisi)
  1. Silakan lakukan submit pendaftaran sebelum batas akhir pendaftaran. Sebelum melakukan submit pendaftaran, pastikan Anda sudah mengisi semua form dengan benar sebab setelah Anda sudah melakukan submit pendaftaran, data Anda akan dikoreksi oleh Tim Seleksi dan tidak dapat diedit lagi.
PENTING !

Dokumen yang perlu Anda siapkan (scan terlebih dahulu) antara lain :

No. Jenis Dokumen Tipe Ukuran Maksimal
1. Foto .jpg 200 Kb
2. Scan KTP .jpg 200 Kb
3. Proposal .pdf 512 Kb
4. Scan Buku Tabungan (halaman pertama) .jpg 512 Kb
5. Surat Permohonan .jpg 512 Kb
6. Ijazah .jpg 200 Kb
7. Sertifikat Organisasi .zip (.jpg dalam .zip) 512 Kb
8. Sertifikat Prestasi .zip (.jpg dalam .zip) 512 Kb
9. Sertifikat Pelatihan .zip (.jpg dalam .zip) 512 Kb
10. Surat Rekomendasi / Usulan Beasiswa .zip 2 Mb

Jika Anda mengalami kesulitan dalam melakukan pendaftaran Beasiswa Unggulan P3SWOT secara online, Anda dapat mendownload buku Petunjuk Penggunaan P3SWOT Online disini.

Buruan daftar…..

TUGAS TARIKH KELAS IV SDI AL MADINA

Bagi anak-anakku kelas IV A, B dan C yang ingin men-download tugas Tarikh, silakan klik link berikut ya…..

Tugas 1 Tarikh 4